Syalom jemaat Christ Living Church yang dikasihi Tuhan,


Ada pepatah berkata, “dari buah dikenal pohonnya”, sifat dan karakter manusia dikenali dari tutur kata dan perbuatannya, demikian juga gereja Tuhan dikenali dari jati diri komunitasnya dan sikap-perilaku angota-anggotanya. Di tengah maraknya gereja setan, gereja sesat dan ribuan organisasi “gereja” saat ini, bagaimana kita bisa mengenali gereja Tuhan yang sejati? Apa ciri-ciri gereja Tuhan? Apakah gereja Tuhan bisa dikenali dari gedung gerejanya atau dari hiasan kalung salib di leher pengikutnya?

Pertama, gereja Tuhan adalah pribadi yang percaya Yesus itu Mesias, Anak Allah yang hidup.


Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.


Yesus mengatakan hal ini setelah Petrus menyatakan pengakuan pribadinya atas pertanyaan Yesus: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Lalu Petrus berkata: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat.16:15,16)


Mat 16:17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”


Jelas bahwa gereja Tuhan itu bukan organisasi, bukan gedung, bukan jumlah anggotanya atau hal-hal yang bersifat jasmani atau fana. Sebaliknya, gereja Tuhan itu bersifat rohani dan kekal, sebab alam maut tidak akan menguasainya. Jadi, gereja Tuhan adalah orang yang mengalami pewahyuan Bapa surgawi sehingga hatinya percaya dan mulutnya mengaku bahwa Yesus itu Mesias (Juru Selamat), Anak Allah yang hidup (Rom.10:10).


Percaya dan pengakuan yang dimaksudkan di sini bukan hanya “kata-kata” dari mulut saja, tetapi yang diyakini dan dihidupi dengan sungguh-sungguh sehingga taat melakukan FirmanNya dan menjadi murid Kristus seumur hidupnya.


Kedua, gereja Tuhan dikenali dari komunitasnya yang saling mengasihi.

Joh.13:34 "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."

Joh.13:35 "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."


Inti ajaran Alkitab adalah Kasih, sebab Allah adalah Kasih (1 Jn.4:8) dan tinggal bersama orang percaya, sehingga kehadiran kasihNya membuat mereka menjadi komunitas yang saling mengasihi dan pada akhirnya menghadirkan kasih Allah itu secara radian ke komunitas lain di manapun mereka berada. Kalau mereka ada di sekolah, suasana belajar-mengajar akan penuh dengan damai sejahtera Tuhan. Kalau mereka di tempat kerja, maka rekan-rekan kerjanya akan merasakan hadirat kasihNya. Di mana pun mereka berada, kasihNya akan mempengaruhi situasi hati komunitasnya. Meski tiap hubungan di komunitas itu berpotensi timbulnya konflik dan tidak steril dari masalah, tapi kasih Allah itu akan selalu mampu meredakan gejolak “badainya” karena kasih itu menutupi banyak sekali dosa (1 Pet.4:8).


Kasih inilah yang membedakan gereja Tuhan yang sejati dengan komunitas yang mengaku “Kristen” dan “gereja” tapi tidak mencerminkan kasih. Gereja Tuhan dikenal sebagai komunitas yang bersukacita atas suasana surga yang dapat dirasakan karena adanya praktek kasih di antara orang percaya. Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam pelayanannya, maka gereja Tuhan seharusnya menjadi komunitas yang bisa menjadi harapan dan solusi terbaik bagi masalah-masalah yang dihadapi dunia.


1 Jn 5:5 "Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?"


Ketiga, gereja Tuhan adalah gereja Misi.


Tujuan Tuhan mendirikan gerejaNya tidak lain adalah untuk melakukan Amanat Agungnya (Mat.28:19,20) Inilah “the ultimate goal” dari gereja Tuhan. Kebaktian Minggu, paduan suara, Bible Study, Pemberitaan Injil, Pujian-Penyembahan, Sekolah Minggu, Persekutuan Doa, Life Group, Seminar Alkitab, Diskusi rohani, Sekolah Alkitab dan apapun aktivitas pelayanan yang lain adalah “alat” untuk mencapai tujuan gereja, yaitu menjangkau jiwa bagi Kristus. Kalau misi adalah “pekerjaan” gereja, artinya gereja bisa sibuk mengerjakan yang lain. Ironisnya, inilah yang banyak terjadi saat ini, gereja tidak sibuk menjangkau jiwa, tapi sibuk bikin mega church, berlomba membangun gedung, asyik bikin entertainment rohani, kreatif bikin gereja “bisnis”, cari duit untuk investasi property, dsb. Karena itu eksistensi gereja harus dipertegas menjadi gereja misi, dan pelayanan gerejapun harus dijaga dengan disiplin agar menjadi pelayanan misi. Apapun bentuk dan jenisnya pelayanan gereja itu ujung-ujungnya harus bersasaran misi, yaitu menjangkau jiwa bagi Kristus.


Sepuluh tahun yang lalu Tuhan mendirikan gereja misiNya, yaitu Christ Living Church (CLC). Kebaktian perdana dilakukan Minggu, 18 June 2006, dan diteguhkanNya dengan “tanda” tulisan asap yang keluar dari sebuah pesawat terbang yang bermanuver dan berakrobatik naik turun di atas tempat kebaktian saat itu, gedung School of Art, Forest Rd, Peakhurst NSW. Dua kalimat yang “ditulis” pesawat itu adalah “Trust in Jesus alone” dan “Jesus saves”. Ini memotivasi CLC untuk selalu mempercayakan diri kepada Sang Kepala Gereja, sehingga dalam pelayanannya CLC tidak perlu gentar dengan “kesulitan” apapun, karena Dia akan selalu menyelamatkannya. Ini membuat CLC terus maju dengan mantap, sebab tahu apa yang akan dicapai dan ke mana harus pergi mengerjakan pekerjaan misiNya (Mark.16:8)


Apa yang diteguhkan Tuhan pada waktu kebaktian perdana itu sudah terbukti. CLC dipimpin, dipelihara, dilindungi, diberkati dan dihujani mujizat karena mempercayakan diri sepenuhnya kepada Yesus Sang Kepala Gereja. Semua itu tidak bisa diceritakan satu persatu, sebab ribuan kata tidak akan cukup untuk menulisnya. Terlalu banyak berkat yang sudah dicurahkan Tuhan atas CLC dalam dekade yang pertama ini. Hanya anugerahNya yang membuat CLC bisa eksis dan berfungsi sebagai gereja misi yang taat melakukan Amanat Agung dan FirmanNya untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus.


Minimal setahun sekali, saya sebagai Gembala Sidang CLC melakukan mission trip ke Indonesia, ke kota-kota besar-kecil maupun desa-desa, ke pulau-pulau maupun belantara pedalaman untuk membagi berkat rohani maupun jasmani. Tempat-tempat yang sudah dikunjungi untuk penginjilan, seminar dan KKR a.l.: Surabaya, Jakarta, Medan, Denpasar, Yogya, Makasar, Manado, Kupang, Malang, Madiun, Maumere, Ende, Luwuk, Pontianak, Ungaran, Soe, Tengger, Putussibau, Magetan, Caruban, dll. Dalam mission trip yang terakhir, ada pemimpin jemaat yang ikut berperan. Tahun 2016 ini mission trip selanjutnya akan diadakan di Samarinda, Banjarmasin, dan pedalaman Kalimantan Timur, sedangkan tahun 2017 direncanakan ke Kepulauan Riau dan sekitarnya. Saya rindu agar semakin banyak jemaat yang bisa ikut berpartisipasi dalam mission trip ini. Sayang sekali rencana mission trip ke India tahun ini harus ditunda karena harus melakukan persiapan yang lebih mantap.


Penjangkauan jiwa melalui media sosial dan internet juga digalakkan. Khotbah-khotbah Minggu di-upload ke website CLC. Setiap tahun website ini dikunjungi oleh kira-kira 30,000 orang, dimana 25% nya adalah pelanggan tetap, dan berdasar web-statistic mereka tersebar di 124 negara. Mereka adalah pelanggan khotbah online yang tiap khotbahnya rata-rata dikonsumsi oleh 700 orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah. Melalui pelayanan website ini, saya menerima banyak undangan dan tawaran kerja sama pelayanan dari luar negeri, al.: Singapore, Malaysia, Philipina, Brunei, Vietnam, Iran, Irak, Afganistan, India, Belanda, Korea, Pakistan, Jerman, dll. Apalagi sejak kebaktian CLC disiarkan langsung secara live streaming melalui internet, maka pengunjung website dan pelanggan khotbah online bertambah secara signifikan. Bahkan account Facebook CLC yang menjadi salah satu media pemasaran khotbah online juga disukai oleh lebih dari 100,000 orang.


CLC juga melakukan pelayanan diakonia kepada yang membutuhkan di Indonesia, a.l.: bea siswa bagi anak-anak yatim piatu, santunan biaya pengobatan dan rumah sakit, mendukung pembangunan gereja-gereja di pedesaan, pengadaan alat musik di gereja-gereja pedesaan, santunan kesejahteraan sosial bagi para hamba Tuhan yang melayani di pedesaan, sembako dan obat-obatan bagi para pemulung dan gelandangan, mendukung dana pembangunan sekolah dan panti asuhan Kristen serta dana operasional Sekolah Alkitab, biaya training misi bagi para hamba Tuhan di pedesaan, bekerja sama dengan gereja Onnuri di Sydney menyelenggarakan Seminar Saat Teduh di berbagai kota di Indonesia, dll.


Semua pelayanan misi di atas dibiayai oleh dana misi CLC yang dialokasikan sebanyak 10% dari income gereja. Sebesar apapun kebutuhan pelayanan CLC, dana misi ini diprioritaskan. Meski tiap tahun kebutuhan pelayanan makin bertambah, tapi CLC tidak pernah kekurangan dana, karena CLC bisa mempertanggung-jawabkan “uang Tuhan” dengan sebaik-baiknya. Tiap tahun keuangan CLC zero balance, sisa atau saldonya NOL, sebab semua persepuluhan dan persembahan jemaat digunakan untuk membiayai operasional gereja dan hal-hal yang mendukung pelayanan misi, bukan untuk “investasi lain” yang tidak berhubungan dengan misi. Disamping itu CLC juga menerapkan open management, yang mengelola keuangan CLC secara terbuka sehingga semua jemaat CLC dapat mengetahui atau melihat pembukuan CLC kapan saja bila diperlukan.


Semua pelayan Tuhan di CLC melayani dengan jujur, tulus dan rendah hati. Tidak heran bila Tuhan makin meningkatkan kapasitas pelayanan mereka sesuai janji FirmanNya, barangsiapa setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, Dia akan memberikan kepadanya tanggung jawab dalam perkara yang besar (Mat.25:21, 23). Sebagai Gembala Sidang, saya hanya mempersiapkan para pemimpin gereja sehingga siap dipakai Tuhan dan diutus ke ladang misiNya. Melalui training homiletics dan hermeneutics, ada lebih dari 10 pengkhotbah muda yang siap dipakai Tuhan untuk menjangkau generasi muda di ladang misiNya, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Mereka rata-rata fasih berbahasa Inggris, Indonesia dan Mandarin serta professional di bidang profesinya masing-masing.


Terlepas dari suka-duka yang membuat pelangi kasihNya makin indah di CLC, saya yakin Tuhan sudah menyediakan berkatNya yang lebih besar lagi dalam dekade yang kedua ini. Hal ini akan sebanding dengan tanggung jawab yang harus dilakukan CLC sebagai gereja misiNya. Karena itu, dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak seluruh jemaat untuk menjadi komunitas yang lebih dewasa dan semakin indah di hadapan Tuhan. Jangan menuntut apa yang bisa dilakukan CLC terhadap Anda, tapi tetapkan apa yang bisa Anda lakukan untuk CLC. Masih banyak yang harus kita kerjakan di tahun-tahun mendatang. Mari kita bersatu mewujudkan “impian” punya gedung sendiri supaya CLC makin bisa meningkatkan pelayanannya dan kontribusinya dalam kerja sama misi menjangkau jiwa-jiwa dengan gereja-gereja misioner yang lain.


Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh keluarga dan semua pihak yang setia mendukung dan mendoakan saya sehingga bisa berfungsi sebagai Gembala Sidang selama 10 tahun ini. Tiada gading yang tak retak, karena itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan kekurangan saya sebagai manusia yang terbatas segalanya.


Tolong doakan saya agar bisa mengemban tugas selanjutnya dengan hikmat dan pengurapan Tuhan. Tolong dukung saya sebab kasih dan persatuan di antara kita adalah pra-syarat kondusif untuk terjadinya mujizat Tuhan sehingga apa yang dibutuhkan CLC tidak mustahil.


Akhir kata, dengan hati bersyukur, saya mengucapkan Happy Anniversary yang ke 10 kepada seluruh jemaat CLC yang saya kasihi. Mari kita berikan persembahan terbaik kepada Tuhan dengan membawa jiwa-jiwa keluarga, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi kepadaNya.


Salam misi ke ujung bumi,


Pdt. Agus Rahardja DS

Gembala Sidang Christ Living Church